Realitanya, timeline orang udah penuh. Setiap hari mereka kebanjiran caption, video pendek, carousel, thread, artikel, email, sampai notifikasi promo yang numpuk. Kalau kita mau serius main di dunia konten marketing, kita harus paham satu hal penting yaitu konten yang terasa nyambung.
Penulisan konten yang bagus bisa bikin orang berhenti scroll, mau baca sampai habis, klik CTA, simpan postingan, sampai akhirnya percaya sama brand kita. Dan di titik itu, konten bukan lagi sekadar “isi media sosial”, tapi udah jadi alat jualan yang halus, bangun trust, dan bikin brand terasa hidup.
Dimulai dari Kenal Audiens
Banyak brand bilang targetnya “perempuan 25–35 tahun”, “profesional muda”, “pelaku UMKM”, atau “orang tua muda”. Boleh, tapi nggak cukup. Di dunia nyata, orang bukan sekadar profil demografi, tapi individu dengan kebutuhan yang lebih kompleks. Orang hidup sebagai manusia yang punya keresahan, kebiasaan, selera, dan cara ngomong masing-masing.
Misalnya kita jual skincare. Audiens kita bukan cuma “wanita usia 23–35”. Bisa jadi yang kita hadapi adalah perempuan kantoran yang capek kerja, tidur kurang, wajah kusam, dan sebenarnya bukan cari skincare paling canggih, tapi cari yang simpel, aman, dan nggak ribet. Cara ngomong ke orang kayak gini jelas beda dibanding audiens yang doyan eksperimen skincare berlapis-lapis dan update trend ingredients tiap minggu.
Begitu juga kalau kita pegang brand otomotif, kuliner, fashion, edukasi, atau jasa. Orang nggak cuma beli produk. Mereka beli solusi, rasa aman, pengakuan sosial, kenyamanan, atau harapan bahwa hidup mereka bisa sedikit lebih enak.
Level Keakraban dan Topik
Salah satu tips untuk menulis konten yang menarik yang sering diremehin adalah: tahu batas keakraban. Nggak semua audiens cocok diajak ngobrol dengan nada yang sama.
Kalau audiens kita Gen Z, santai, dan aktif di media sosial, gaya bahasa yang lebih ringan dan santai, dan relate biasanya akan lebih efektif. Tapi kalau audiens kita lebih mature, kelas premium, atau bergerak di industri yang butuh trust tinggi, gaya “terlalu nyablak” malah bisa bikin brand terasa kurang meyakinkan.
Brand sering terjebak bikin konten dari sudut pandang internal: “Kita mau promosi produk A”, “Kita mau angkat fitur B”, “Kita mau dorong penjualan paket C.” Padahal audiens bangun pagi bukan untuk mikirin produk kita. Mereka bangun dengan pikiran sendiri: capek, bingung, pengen hemat, pengen tampil lebih baik, pengen kerjaan beres, pengen usaha jalan. Konten biasanya lebih mudah menarik perhatian saat masuk dari topik yang memang sedang relevan bagi audiens. Bukan dari pintu yang kita paksakan.
Membuka Tanpa Basa-Basi
Brand sering kali bertele-tele menyampaikan pesan. Contohnya yang sering terjadi saat jualan sepatu adalah membuka konten dengan kalimat yang terlalu biasa. Misalnya, “Sepatu kami dibuat dari material berkualitas” atau “Sepatu nyaman untuk dipakai sehari-hari.” Kalimat seperti ini memang aman, tapi belum tentu bikin orang berhenti scroll.
Pembukaan yang bagus harus langsung kasih alasan kenapa orang perlu lanjut lihat. Bisa lewat pertanyaan yang ngena, pernyataan yang berani, atau masalah yang terasa dekat dengan keseharian mereka.
Misalnya, daripada bilang, “Sepatu ini nyaman dipakai seharian,” kita bisa mulai dengan:
“Baru jalan setengah hari, kaki udah pegal gara-gara sepatu?”
Atau:
“Cari sepatu yang tetap nyaman dipakai dari meeting sampai nongkrong?”
Pembukaan seperti ini terasa lebih hidup karena ada masalah yang nyata, ada emosi, dan bikin orang merasa, “Nah, ini gue banget.”
Hook, Visual dan Contoh Jelas
Hook yang efektif itu bukan sekadar bikin kaget, tapi bikin audiens merasa dipahami. Tujuan kita bukan cuma cari perhatian sesaat. Kita mau menarik perhatian yang tepat. Hook yang baik harus tetap nyambung dengan isi. Jangan sampai pembukaan heboh, tapi isi zonk.
Di media sosial, pembuka bukan hanya soal kalimat pertama. Tampilan carousel, thumbnail video, headline pada desain, dan 2–3 detik awal video juga ikut menentukan. Kata-kata dan visual adalah partner. Harus saling bantu, bukan jalan sendiri-sendiri. Kadang isi kontennya bagus, tapi kalah duluan sama tampilan awal yang kurang kuat.
Setelah orang tertarik, tantangan berikutnya adalah bikin mereka betah. Orang nggak mau kerja keras hanya untuk menangkap maksud tulisan kita. Dijelaskan dengan bahasa yang sederhana, nggak muter-muter, karena biasanya mereka baca di layar HP sambil nunggu, sambil jalan, sambil kerja, sambil buka banyak tab. Kalau sekilas mudah dipahami, makin besar peluang dibaca sampai habis.
Cara paling efektif untuk bikin konten skincare terasa menarik adalah pakai contoh yang dekat dengan keseharian target market kita. Misalnya kalau kita jualan skincare dan target audiens kita orang yang sibuk kerja dari pagi sampai malam, jangan cuma bilang produknya praktis. Gambarkan sekalian: cleanser yang dipakai cepat sebelum berangkat, serum yang nggak lengket buat pagi hari, dan sunscreen yang nyaman dipakai ulang di tengah padatnya aktivitas.”
Contoh seperti ini bikin konten terasa lebih hidup, nggak kaku, dan lebih gampang dipahami.
Sajikan Nada, Humor, dan Emoji
Konten yang kuat biasanya punya suara. Orang bisa ngerasa, “Oh ini gaya brand ini banget.” Dan hal itu nggak muncul dalam semalam tapi terbentuk karena konsistensi.
Kalau hari ini kita nulis santai, besok ultra formal, lusa tiba-tiba pakai bahasa yang sok lucu, audiens bakal bingung. Brand kita maunya jadi siapa sebenarnya? Konsistensi tone penting karena bikin brand terasa punya identitas. Nggak harus selalu lucu. Nggak harus selalu gaul. Tapi harus terasa satu suara. Audiens lama-lama akan hafal vibe itu. Dan saat mereka hafal, engagement biasanya ikut tumbuh karena konten terasa familiar.
Humor bisa bikin konten jauh lebih manusiawi, jangan dipaksa demi terlihat relate. Meme, jokes receh, atau sindiran halus bisa jadi senjata ampuh kalau memang sesuai dengan audiens dan konteks brand.
Emoji juga bisa bantu nambah ekspresi, bikin tulisan lebih mengalir, dan mengurangi kesan kaku, namun jangan sampai mengaburkan inti pesannya. Gunakan emoji seperti bumbu. Kalau pas, konten jadi lebih enak. Kalau berlebihan, rasanya malah aneh.
Bikin Orang Bergerak
Tujuan akhir konten biasanya bukan cuma enak dibaca. Kita pengen ada aksi. Bisa berupa komen, simpan, share, klik link, DM, daftar, atau beli. Konten yang engaging harus punya arah. Call to action sering terasa kaku karena ditulis seperti instruksi. Padahal CTA bisa dibuat santai. Yang penting jelas.
Daripada “Silakan lakukan pembelian sekarang juga,” kita bisa pakai gaya yang lebih ringan seperti, “Kalau kita lagi ngalamin hal yang sama, mungkin ini saatnya cobain cara yang lebih simpel.” Atau, “Kalau butuh dibantu pilih yang paling cocok, tinggal chat aja.” CTA yang enak dibaca itu terasa kayak ajakan, bukan dorongan yang maksa.
Pertanyaan yang spesifik, atau quiz yang dekat dengan pengalaman audiens juga bisa memicu mereka untuk cepat merespon. Misalnya: “Tim sunscreen yang wajib reapply tiap beberapa jam, atau tim sekali pakai pagi terus lupa?”
Cara Mulai Nulis Konten
Salah satu trik paling kepakai adalah tulis dulu seperti kita lagi jelasin ke teman. Pakai bahasa sehari-hari. Biarkan ide mengalir dulu. Setelah itu baru dirapikan supaya tetap enak dibaca dan cocok buat brand. Cara ini membantu tulisan terasa lebih natural. Karena seringnya, tulisan yang terlalu “niat profesional” justru kehilangan nyawa.
Data penting, fakta penting, insight penting. Tapi kalau semuanya disampaikan tanpa emosi, tulisan terasa kosong. Sementara keputusan manusia sering dipengaruhi perasaan. Konten yang menarik biasanya bukan cuma informatif, tapi juga punya nada. Bisa empati, semangat, kejujuran, dan humor tipis.
Misalnya kita mau bahas soal insecure. Secara formal, kita bisa bikin judul seperti “Strategi Efektif Mengatasi Rasa Rendah Diri.” Aman, tapi ini terasa biasa.
Tapi kalau kita ubah jadi, “Capek Minder Terus? Ini Cara Biar Nggak Ngerasa Kecil di Depan Orang Lain,” rasanya lebih dekat. Masih sopan dan lebih manusiawi. Lebih terdengar seperti percakapan. Di sinilah seni menulis bekerja. Bukan sekadar menyampaikan topik, tapi membungkusnya dengan sudut yang bikin orang mau terlibat.
Pada akhirnya, menulis konten yang menarik bukan rahasia langit. Intinya sederhana, walau praktiknya butuh latihan: kenali audiens, awalan konten yang kuat, sampaikan isi yang jelas, jaga vibe, dan arahkan mereka dengan CTA yang halus tapi tegas. Saat kita bisa bikin audiens merasa dilihat, dipahami, dan dibantu, konten kita punya peluang jauh lebih besar untuk dibaca sampai habis, diingat, dan ditindaklanjuti.
Karena di tengah dunia yang isinya rebutan perhatian, konten yang menang bukan yang paling berisik. Tapi yang paling terasa sentuhan manusianya.



